<!-- Original:  Mike W. (mikew@dvol.com) -->
<!-- Web Site:  http://www.dvol.com/~users/mikew -->


<!-- Begin
var msg = new Array();
Stamp = new Date();
today = Stamp.getDate();
msg[1] = "<b>1 Kor 2:1-5; Luk 4:16-30.</b><br><i> Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik untuk orang miskin.</i> Lampu merah. Tangan-tangan terulur minta sedekah. Banyak kaca mobil tetap tertutup rapat. Mereka lewat. Siapa peduli orang miskin? Adakah kabar baik bagi mereka? Yang ada cuma kabar buruk. Gubuk-gubuk yang kumuh digusur, becak dan gerobak disita, harga BBM dan bahan makanan melambung tinggi; hasil produksi rakyat anjlok, para buruh kena PHK....  ”Ia telah mengurapi aku...” Perlu pengurapan Roh Kudus supaya mata dan telinga terbuka dan hati tergerak untuk menyampaikan kabar baik untuk orang miskin. Kabar baik apa? Kabar baik bahwa semua orang, apa pun status sosialnya, dikasihi dan berharga di mata Bapa. Maka orang yang kaya materi akan membuka pundi-pundinya guna memberdayakan saudara-saudaranya yang miskin. Dan mereka yang kaya rohani akan membuka perbendaharaan hatinya untuk memperkaya dan menguduskan saudara-saudaranya yang miskin rohani. Dengan demikian terwujudlah Kerajaan Allah yang berazas keadilan dan cintakasih.";
msg[2] = "<b>1 Kor 2:10b-6; Luk 4:31-37.</b><br><i> Alangkah hebatnya perkataan ini. Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.</i> Orang banyak yang pada hari Sabat berkumpul di rumah ibadat, menyaksikan Yesus mengusir roh jahat. Mereka mengalami betapa hebatnya perkataan Yesus yang membuat roh jahat itu terpental keluar. Firman atau perkataan Tuhan penuh kuasa. Dengan firman-Nya Ia menjadikan langit dan bumi serta segenap isinya. Dengan firman-Nya Ia menciptakan kembali dan memulihkan apa yang rusak. “Bersabdalah, Tuhan, maka aku akan sembuh.” Dengan firman-Nya Ia mengusir yang jahat dan membuat Roh Kudus-Nya turun dan tinggal untuk menguduskan kita. Kita percaya dan mengandalkan kekuatan firman Tuhan. Itulah sebabnya kita umat Tuhan membaca dan merenungkan firman-Nya yang penuh kuasa. Firman itu mampu mengubah hati kita yang bengkok jadi lurus, yang najis jadi kudus, yang gelap jadi terang.";
msg[3] = "Pw S. Gregorius Agung. <br><b>1 Kor 3:1-9; Luk 4:38-44.</b><br><i> Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.</i> Dalam Temu Orang Muda Sedunia di Sydney bulan Juli yl 400.000 orang muda berkumpul bersama Paus Benediktus XVI. Mereka bahagia bukan main kalau bisa melihat Paus dengan mata kepala sendiri, apalagi kalau boleh berjabat tangan atau menyentuh wakil Kristus itu. Kalau sentuhan Paus saja begitu berarti, kita bisa bayangkan bagaimana sentuhan Kristus sendiri. Tapi sentuhan fisik baru berarti kalau juga menyentuh dan menggetarkan hati serta jiwa. Bagi para lawan Yesus yang menangkap, menyiksa dan menyalibkan Dia, sentuhan dengan Dia tidak berarti apa-apa. Bagi orang yang percaya, sentuhan itu penuh daya yang mengubah jiwa dan raga, sehingga tubuh pun dipulihkan dari penyakit.";
msg[4] = "<b>1 Kor 3:18-23; Luk 5:1-11.</b><br><i> Bertolaklah ke tempat yang dalam ....</i> Perkataan Yesus itu bisa kita artikan secara harafiah, tapi bisa juga secara simbolis. Maka amat dalam maknanya. Kalau kita mau menjadi pengikut Yesus yang sungguh-sungguh, kita tidak bisa tinggal di tepian, di tempat yang dangkal. Tidak cukup hidup ‘biasa-biasa’ saja: Berdosa boleh saja, asal jangan dosa berat sehingga masuk neraka. Korupsi boleh saja, asal jangan banyak-banyak, jangan sampai ketahuan. Bukan begitu. “Pergilah ke tempat yang dalam”, ke tempat yang sunyi di lubuk hati kita. Di sana kita temukan Kristus. Kita terima Dia dan jadikan Dia satu-satunya harta. Bersama Dia kita akan sanggup mengatakan “tidak” terhadap segala godaan dan kejahatan sekecil apa pun. Bersama Kristus  mampulah kita membangun dunia baru dan bersih.";
msg[5] = "<b>1 Kor 4:1-5; Luk 5:33-39.</b><br><i> Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka?</i> Yesus menyamakan diri dengan sang mempelai. Di mana ada mempelai, di sana ada pesta pernikahan, ada sukacita dan kepenuhan kasih. Dengan kedatangan Yesus, genaplah nubuat Nabi Yesaya, “Seperti seorang muda menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu.” Tuhan adalah sumber sukacita. Bagi kita yang mengimani Dia, tidak ada alasan untuk bermuram durja. Kalaupun kita sedih dan berpuasa, itu karena kejahatan masih merajalela di dalam diri kita dan di dunia. Kita mengalahkannya dengan doa dan puasa serta penuh harapan, karena Dia sudah bangkit sebagai Pemenang.";
msg[6] = "<b>1 Kor 4:9-15; Luk 6:1-5.</b><br><i> Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. </i>Si Leon, SD kelas 4, datang di sekolah terlambat. Untuk masuk ke dalam kelas, dia harus menjalani hukuman lari keliling lapangan tiga kali. Ayahnya yang mengantarkan dia protes. “Leon ini terlambat karena ditabrak motor sehingga kakinya luka. Saya bawa dia berobat ke Puskesmas dulu.” Petugas sekolah bersikeras. “Apa pun alasannya, Pak, dia harus lari keliling lapangan tiga kali.” Tidak masuk akal? Ah, ada banyak peraturan yang tidak masuk akal, karena lebih mementingkan peraturannya ketimbang manusianya. Untung Yesus beda. Dan kita yang ikut Dia, patut mengubah pola berpikir kita.";
msg[7] = "Minggu Biasa XXIII. <br><b>Yeh 33:7-9; Rm 13:8-10; Mat 18:15-20.</b><br><i> Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. </i>Pertama, tegurlah. Tidak enak menegur orang bersalah. Lebih baik diam saja, toh bukan urusanku. Tapi dosa adalah sesuatu yang serius, tak bisa dibiarkan. Tegakah kita membiarkan saudara kita terjerumus? Jadi menegur di sini menjadi tanda kasih, perhatian, ikut bertanggung jawab atas keselamatannya. Penting juga bagaimana cara menegur supaya diterima. “Di bawah empat mata”. Jadi jangan permalukan dia di depan orang lain. Teguran itu soal pribadi antara aku dan dia. Dalam percakapan pribadi itu biarkan dia merasakan kasih dan keprihatinanku. Teguranku kuberikan bukan karena marah atau dendam, tapi timbul dari hasrat terdalam hatiku untuk melihat dia berkembang makin baik";
msg[8] = "Pesta Kelahiran SP Maria. <br><b>Mi 5:1-4a atau Rom 8:28-30; Mat 1:1-16.18-23 (Mat 1:18-23).</b><br><i> Yusuf anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu.</i> Bayangkan betapa hancur hati seorang pria bila mengetahui tunangan tersayang yang amat setia sudah hamil. Entah siapa kekasih gelapnya itu. Peristiwa itu mengungkapkan keluruhan hati Yusuf maupun Maria. Mimpi malam itu membawa kecerahan yang luar biasa bagi Yusuf. Maria tunangannya adalah pilihan Allah untuk melahirkan sang Mesias yang sudah lama dinanti. Dan dia, Yusuf, dipilih menjadi kepala keluarga kudus ini. Maka atas perintah Allah diambilnya Maria sebagai istri. Berbahagialah Maria Bunda Yesus dan Bunda kita. Berbahagialah kita yang mempunyai keluarga kudus sebagai teladan bagi keluarga-keluarga kita.";
msg[9] = "<b>1 Kor 6:1-11; Luk 6:12-19. </b><br><i>Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. </i>Ada berbagai alasan kita pergi menemui orang. Mungkin untuk menikmati kehadirannya, belajar ilmunya, minta nasihatnya atau minta disembuhkan. Mengapa orang-orang datang kepada Yesus? Sangat menarik bahwa alasan pertama yang diberikan ialah untuk mendengarkan Dia. Untuk bisa mendengar dengan baik, perlu diam. Dewasa ini orang sulit diam. Kalaupun mulut diam, hati ribut sehingga tidak bisa dengar apa yang dikatakan. Datang kepada Yesus dengan mulut terkatup, dengan hati yang hening dan bening. Hanya demikian kita bisa menangkap kata-kata-Nya yang penuh kuasa, yang mampu merubah diri kita menjadi manusia baru.";
msg[10] = "<b>1 Kor 7:25-31; Luk 6:20-26.</b><br><i> Celakalah kamu jika semua orang memuji kamu, karena secara demikian juga nenek moyangmu telah memperlakukan nabi-nabi palsu. </i>Nabi palsu hanya menyampaikan kata-kata yang suka didengar orang. Tidak heran mereka disenangi dan dipuji. Dan itulah yang mereka cari. Kita pun senang kalau dipuji. Pujian mengangkat dan memberi semangat. Tapi sangat tercela bila orang mencari pujian semata, melakukan segalanya untuk mendapat pujian, dan tidak bergerak kalau tidak dipuji. Biarlah segala pujian dikembalikan kepada Tuhan, sebab tidak ada satu pun dari milik dan kemampuan kita yang tidak kita terima. Bagi Tuhan segala pujian selamanya.";
msg[11] = "<b>1 Kor 8:1b-7.11-13; Luk 6:27-38. </b><br><i>Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. </i>Di tempat lain ada tertulis, “Hendaklah kamu sempurna seperti Bapamu di surga sempurna adanya.” Artinya sama saja. Dengan “sempurna” tidak dimaksud maha kuasa dan maha kuat. Allah adalah pertama-tama kasih. Ia sempurna dalam kasih dan kemurahan hati. Maka hidup kita mempunyai satu tujuan saja,  yaitu berbuat kasih dengan murah hati. Tapi ada sesuatu yang menghambat dalam diri kita, yakni sikap penuh perhitungan. Kita biasa mengukur kebaikan kita kepada orang dengan kebaikan yang kita terima dari dia. Terhadap orang yang kikir kita cenderung kikir pula. Yesus memberi kita tolok ukur baru. “Kasihilah sesamamu seperti Aku telah mengasihi kamu.” Dan Ia mencintai kita dengan tidak terbatas.";
msg[12] = "<b>1 Kor 9:16-19.22b-27; Luk 6:39-42.</b><br><i> Mengapa engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? </i>Seorang kenalanku memecat pembantunya karena mengambil uang Rp. 10.000 yang ia tinggalkan di meja dapur. Dengan berapi-api ia cerita, “Bayangkan, uang Rp. 10.000 bisa raib! Dia masukkan ke kantong dan tidak mengaku. Baru setelah saya rogoh kantongnya dia tidak bisa mungkir. Saya langsung suruh dia angkat kaki dari rumahku.” Seminggu kemudian kantor temanku itu digeledah. Ia ditangkap karena terbukti telah menggelapkan uang perusahaan sebanyak Rp. 10 milyar. Sungguh menyedihkan bahwa kita begitu mudah menghakimi orang lain dan buta terhadap kesalahan sendiri. ";
msg[13] = "Pw S. Yohanes Krisostomus.<br><b> 1 Kor 10:14-22a; Luk 6:43-49.</b><br><i> Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?</i> Ponirah baru mulai kerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia anak yang sangat sopan. Apa yang dikatakan oleh majikannya, ia jawab dengan, “Ya nyonya, ya nyonya, baik nyonya.” Tapi ia tak pernah melakukan apa yang disuruh. Meja makan tidak dibereskan, piring tidak dicuci, pakaian kotor tetap bertumpuk, lantai tidak disapu atau dipel. Kalau diingatkan, ia kembali menyahut, “Ya nyonya, baik nyonya.” Akhirnya Ponirah dipecat. Kita pun sering seperti Ponirah yang hanya tahu menyebut nama Tuhan tapi tidak melakukan kehendak-Nya. Hati-hati, jangan sampai kita pun dipecat.";
msg[14] = "Minggu Pesta Salib Suci. <br><b>Bil 21:4-9; Flp 2:6-11; Yoh 3:13-17.</b><br><i> Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh kehidupan yang kekal.</i> Salib adalah tanda yang mengerikan sehingga orang kristen perdana memakai lambang ikan, dan bukan salib sebagai tanda pengenalnya. Salib bila dihubungkan dengan sabda di atas ini, menjadi tanda pemberian diri paling sempurna dari Yesus, Penyelamat kita. Maka kita menghormati salib sebagai tanda kasih terbesar dari Bapa dan Putra-Nya yang menyelamatkan kita. Dan kita memakainya dengan bangga sebagai umat yang telah ditebus oleh-Nya. ";
msg[15] = "Pw SP Maria Berdukacita. <br><b>Ibr 5:7-9; Yoh 19:25-27 atau Luk 2:33-35. </b><br><i>Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri... </i>Ketika Obama terpilih sebagai capres USA dari Partai Demokrat, orang Indonesia yang masih kenal dengan dia waktu tinggal di negara kita sebagai bocah, ikut bangga dan bersukaria. Mungkinkah Bunda sang Mesias, Putra Allah yang maha tinggi, disebut Bunda yang berdukacita? Mungkinkah ada pedang yang menembus hatinya? Maria berduka karena Yesus menjadi tanda pertentangan, Dihadapkan dengan Dia, orang bisa menjawab “ya”, bisa “tidak”. Jawaban “ya” membawa kepada kebahagiaan dan keselamatan. “Tidak” adalah penolakan yang membawa kepada kebinasaan untuk diri sendiri dan bisa menjerumuskan orang lain serta dunia. Pertentangan itu sudah mulai sejak Yesus masih bayi. Apa pilihanku? ";
msg[16] = "Pw S. Kornelius dan Siprianus. <br><b>1 Kor 12:12-14.27-31a; Luk 7:11-17. </b><br><i>Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita. Allah telah melawat umat-Nya. </i>Nabi adalah orang terpilih yang menjadi jembatan antara Allah dengan umat-Nya. Sudah lama tidak ada nabi di Israel. Sekarang muncul Yesus ini yang berkuasa dalam perkataan dan perbuatan di hadapan Allah dan seluruh bangsa. Siapa pula dapat membuat orang mati menjadi hidup kembali kalau dia bukan nabi? Tak dapat diragukan lagi, Dialah orang yang dinanti-nantikan sebagai Mesias! Di dalam Dia, Allah telah mengunjungi umat-Nya. Kabar baik tidak bisa disimpan sendiri. Maka kabar tentang Yesus tersebar seperti api membakar jerami di ladang. Kepada siapakah saya telah menceritakan kabar baik tentang Yesus?";
msg[17] = "<b>1 Kor 12:31 – 13:13; Luk 7:31-35.</b><br><i> Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.</i> Kita masih ingat kunjungan Paus ke Australia bulan Juli yl. Banyakj orang menyambutnya dengan antusias. Tapi ada juga yang tidak peduli, bersikap skeptis, mencari celah-celah untuk melontarkan kritik. Yesus juga menghadapi publik yang macam-macam. Yang paling ekstrim menolak dia adalah sekelompok orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka mengeraskan hati sehingga tidak bisa ikut bergembira atau bersedih. Allah dalam kebijaksanaan-Nya menawarkan rencana keselamatan kepada kita melalui Yesus Kristus. Barangsiapa menerimanya, menerima kebijaksanaan Allah dan menjadi selamat. Kuncinya ada pada kita. Tinggal menjawab, “Ya, aku mau.”";
msg[18] = "<b>1 Kor 15:1-11; Luk 7:36-50.</b><br><i> Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.</i> Pak Ucok, sopir, banyak sekali utangnya pada Pak Indra majikannya. Uang itu untuk pengobatan anaknya yang sakit kanker. Karena kepepet, ia mencuri dompet tuannya yang tertinggal di mobil. Ia menjadi tersangka, tapi perkaranya belum selesai. Waktu berlibur ke pantai, anak Pak Indra terbawa ombak sampai ke tengah laut. Penjaga pantai sudah angkat tangan karena laut terlalu ganas. Pak Ucoklah yang menerjang ombak dan menyelamatkan anak itu.. “Ucok,” kata pak Indra, “kamu sangat mencintai keluargaku. Semua utang dan tuduhan terhadapmu dihapuskan.”";
msg[19] = "<b>1 Kor 15:12-20; Luk 8:1-3.</b><br><i> Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.</i> Ada orang yang menjadi kaya karena bekerja keras dengan memakai segala bakatnya. Allah tidak benci pada orang kaya. Yang Ia benci adalah perbuatan orang yang memperkaya diri dengan memeras orang miskin, berbuat curang dan menutup diri terhadap kebutuhan orang lain. Yesus dan murid-murid-Nya berkeliling dari kota ke kota mewartakan kabar baik. Tapi mereka tetap manusia yang perlu sandang dan pangan. Mereka tidak mencari nafkah. Jadi, dari mana mereka memperoleh kebutuhan hidup? Di sekeliling mereka terbentuklah sekelompok ibu, kalau sekarang mungkin disebut WK. Merekalah yang menunjang Yesus dan para rasul dengan kekayaan mereka. Untuk apa saya memakai kekayaanku?";
msg[20] = "Pw S. Andreas Kim Taegon, Paulus Chong Hasang, dkk. <br><b>1 Kor 15:35-37.42-49; Luk 8:4-15.</b><br><i> Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh, berbuah seratus kali lipat. </i>Coba tanya kepada petani betapa sulitnya menanam padi sampai mendapat hasil yang baik. Selain benih yang bagus masih ada banyak faktor lain: tanah, pupuk, air, udara. Juga perlu memberantas hama seperti wereng, tikus, dll. Yesus memakai perumpamaan benih yang jatuh di tanah yang baik untuk menggambarkan perkembangan iman kita. Benih yang Tuhan tanamkan sudah pasti benih yang unggul. Ladang tempat benih itu ditaburkan adalah hati kita. Apakah merupakan lahan yang subur, diolah dengan puasa dan mati raga, dipupuk dengan doa, diairi dengan sakramen, dijaga terhadap hama dengan bimbingan rohani?";
msg[21] = "Minggu Biasa XXV. <b>Yes 55:6-9; Flp 1:20c-24.27a; Mat 20:1-16a.</b><br><i> Atau iri hatikah engkau karena Aku murah hati? </i>“Pak, Anton anak kita perlu kacamata. Dia tidak bisa membaca tulisan di papan tulis.” “Kalau begitu belikan dia kacamata,” jawab ayahnya. “Tidak bisa, pak. Nanti Ika dan Aris irihati.” Ayah menggebrak meja. “Apakah supaya adil Ika dan Aris juga harus dibelikan kacamata padahal mereka tidak perlu?” Begitulah kita, entah di keluarga, di lingkungan atau masyarakat. Selalu iri kalau orang lain diberi lebih banyak, lebih kaya, lebih diperhatikan. Tuhan adil, tapi tidak berarti Ia memberi yang sama kepada semua orang. Tuhan murah hati, bukan saja kepada orang lain, tetapi juga kepada saya. Perlu pandai-pandai menghitung-hitung berkat Tuhan dan bersyukur. Maka berkat itu akan bertambah banyak sampai tak terhitung lagi.";
msg[22] = "<b>Ams 3:27-34; Luk 8:16-18.</b><br><i>Perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi.</i> Ada macam-macam cara mendengar. Ada yang sambil lalu saja, masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Tidak ada bekasnya. Ada juga yang mendengarkan, yaitu mendengar dengan perhatian. Bisa kurang, bisa lebih. Ada lagi yang mendengarkan dengan hati. Inilah cara mendengarkan firman Tuhan yang membawa kepada iman. Apa yang didengar direguk dalam-dalam, sampai menjadi bagian dari dirinya. Imannya bertambah dan terus bertumbuh karena sudah ada dasarnya.";
msg[23] = "<b>Ams 21:1-6.10-13; Luk 8:19-21.</b><br><i> Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.</i> Waktu mau ke Misa Sabtu sore, ibu Lina jatuh di depan rumahnya. Kakinya sakit sekali sehingga ia tidak bisa berjalan. Ia dibawa ke rumah sakit. Dokter sudah mau pulang dan marah-marah karena masih ada pasien. Ia memeriksanya sebentar “Suster, tolong pasang gips. Cepat, saya sudah ditunggu keluarga. Siapa suruh jatuh Sabtu sore. Kembali bulan depan.” Sesudah satu bulan, keadaan kaki bertambah parah. Harusnya bulan lalu dibutuhkan penanganan lain, bukan cuma digips. Tetapi dokter tidak memberi perhatian. Ia memprioritaskan keluarga, dan yang lain-lain dianggap tidak penting. Bagaimana seandainya dokter itu Yesus? Apa yang akan Ia lakukan?";
msg[24] = "<b>Ams 30:5-9; Luk 9:1-6.</b><br><i> Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang.</i> Yesus memanggil murid-murid-Nya supaya tinggal bersama Dia. Mereka telah melihat dan mendengar segala yang Ia lakukan dan ajarkan. Sekarang tiba waktunya mereka diutus. Sebagai bekal diberinya mereka tenaga dan kuasa untuk menguasai setan dan menyembuhkan penyakit. Tugas pokok mereka ialah mewartakan Kerajaan Allah, dan Kerajaan itu menjadi nyata kalau tidak ada lagi kejahatan dan tidak ada lagi penyakit. Kalau kita memulai sebuah proyek, yang nomor satu kita pikirkan adalah modal uang. Proyek Yesus untuk mengembangkan Kerajaan Allah tidak bermodalkan uang tapi iman.";
msg[25] = "<b>Pkh 1:2-11; Luk 9:7-9.</b><br><i> Herodes berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.</i> Tentu itu sangat terpuji. Tapi tunggu dulu. Untuk apa ia ingin bertemu dengan Yesus? Hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Kesempatan itu datang setelah Yesus ditangkap dan dibawa ke Mahkamah Agama lalu kepada Pilatus. Waktu itu Herodes mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus dan ia berharap Yesus mengadakan suatu tanda. Herodes melihat Yesus hanya sebagai obyek dan tontonan. Ia menginginkan sensasi yang menghebohkan. Hatinya tertutup terhadap iman dan pertobatan. Maka Yesus diam saja. Diam-Nya bicara lebih dari seribu kata. Tapi Herodes tidak memahaminya. Apakah saya ingin melihat Yesus? Untuk apa?";
msg[26] = "<b>Pkh 3:1-11; Luk 9:18-22.</b><br><i> Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua. </i>Baru saja Petrus memberi jawaban begitu mantap atas pertanyaan, “Menurut kamu, Aku ini siapa?” Petrus yakin seyakin-yakinnya bahwa Yesus adalah “Mesias dari Allah.” Ia membayangkan Yesus menjadi raja dan kerajaan-Nya jaya seperti di zaman Daud dahulu. Jadi  pernyataan Yesus selanjutnya sama sekali di luar jangkauannya. Mana mungkin idolanya akan mengalami nasib seburuk itu? Bagi kita semua itu sudah terjadi, dan Yesus sudah bangkit mulia. Tapi masih sulit mencerna kata-kata Yesus itu. Apalagi bahwa perlu memikul salib untuk mengikut Dia. Itulah misteri iman yang bisa dimengerti hanya dengan menerima dan melaksanakannya. ";
msg[27] = "Pw S. Vinsensius de Paul. <br><b>Pkh 11:9 – 12:8; Luk 9:43b-45.</b><br><i> Mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. </i>Murid yang akrab dengan gurunya berani bertanya apa saja. Murid-murid Yesus tidak berani lagi bertanya. Itu menandakan hubungan mereka dengan Yesus sudah mulai kendur. Karena tidak mau bertanya, sering timbul salah paham. Akhirnya, waktu sang Guru paling membutuhkan mereka di saat Ia ditangkap, semua murid melarikan diri. Di hati kita pun ada banyak pertanyaan. Ada banyak hal yang tidak kita mengerti. Beranikah kita bertanya kepada Tuhan sendiri atau kepada orang lain yang kita nilai bijak? Orang yang berani bertanya, lebih mengerti dan lebih menghargai serta mencintai hidup ini.";
msg[28] = "Minggu Biasa XXVI. <br><b>Yeh 18:25-28; Flp 2:1-11; Mat 21:28-32.</b><br><i> Meskipun kamu melihatnya, tetapi kamu tidak menyesal dan tidak juga percaya kepadanya.</i> Yesus berbicara kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Mereka adalah pemimpin rohani dan panutan rakyat. Tugas utama mereka adalah mengajar jalan Tuhan dan mendekatkan orang-orang kepada Tuhan. Tetapi sebaliknya yang terjadi. Para pemungut cukai dan perempuan sundal yang biasa dijuluki “orang berdosa”, merekalah yang percaya dan bertobat. Seorang pembimbing rohani terkenal mengeluh bahwa lebih mudah mempertobatkan orang berdosa ketimbang para guru agama dan pemimpin gereja yang menganggap diri sudah suci.";
msg[29] = "Pesta S. Mikael, Gabriel dan Rafael.<br><b> Dan 7:9-10.13-14 atau Why 12:7-12a; Yoh 1:47-51. </b><br><i>Engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.</i> Hari ini pesta para malaikat agung. Ada yang tidak percaya akan malaikat. Mereka sealiran dengan kaum Saduki yang juga tidak percaya akan malaikat. Tapi dalam Kitab Suci malaikat sering disebut. Mereka adalah utusan Allah yang diberi kepada kita sebagai pelindung. Gereja mengajar kita berdoa meminta perlindungan mereka. Roh jahat sangat licik dan dengan segala cara berupaya menjerumuskan kita. Kita memerlukan bantuan roh-roh baik untuk menunjukkan jalan aman yang membawa kepada kehidupan sejati.";
msg[30] = "Pw S. Hieronimus.<br><b> Ayb 3:1-3.11-17.20-23; Luk 9:51-56.</b><br><i> Tuhan, apakah Engkau mau supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?</i> Orang Samaria menolak Yesus yang mau lewat di situ untuk pergi ke Yerusalem. Para murid-Nya marah dan ingin menghukum orang Samaria yang memang merupakan musuh bebuyutan orang Yahudi. Mereka merasa punya kuasa untuk menurunkan api dari langit dan ingin memakai kuasa itu untuk membinasakan musuh. Betapa jauh mereka dari pikiran sang Guru. Mereka belum juga belajar bahwa kuasa diberi untuk menyelamatkan, dan bukan untuk membinasakan. Di zaman kita pun kuasa sering disalahgunakan untuk berbuat sewenang-wenang dan untuk tindak kekerasaan. Kapan kita mau belajar dari Yesus yang lemah lembut dan rendah hati?";

function writeTip() { 
document.write(msg[today]);
}
//  End -->
